Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

16 Agustus 2025

CINTA TANPA BATAS

 

Namanya Sikola Harapan. Tapi kenyataannya bukanlah sekolah seperti kebanyakan. Tak ada gedung, tak ada bangku dan meja, apalagi lapangan. Hanya sebuah teras mesjid tua yang dijadikan tempat pembelajaran. Beralaskan terpal biru, semuanya duduk melantai, merasakan kasarnya lantai semen yang belum dibaluti tehel, apalagi marmer berkilau. Tak ada jendela, hanya berdindingkan pemandangan alam yang begitu indah, angin sejuk yang menampar wajah, seolah menyadarkan kalau kebahagiaan itu bukan hanya milik kita semata. Tapi juga mereka.

Di Sikola Harapan ini, tempat anak-anak Dusun Kalora menggantungkan harapan. Sebuah dusun dikaki Pegunungan Gawalise yang jauh dari perkotaan, hingga jarak ke sekolah yang sangat jauh pun menjadi alasan mereka untuk bermalas-malasan. Anak-anak kecil ini mungkin belum paham tentang masa depan. Tentang berapa pentingnya pendidikan. Yang ada dalam pikiran mereka hanyalah bermain dan bersenang-senang.

“Halo adik-adik semua, hari ini kita kedatangan tamu” sapa Oji yang aku tau sebagai pendiri sekolah ini. Tadinya aku pikir dia seorang Guru yang ditugaskan dipedalaman atau seorang anak muda bergelar Sarjana Pendidikan yang lagi magang. Tapi ternyata dia seorang Dokter Muda yang sedang menyelesaikan Koas-nya.

Halo semua, kenalkan, saya Putri”

Didepan anak-anak ini aku berusaha mengenalkan diriku dengan bahasa yang mudah mereka mengerti. Jujur, aku bukanlah seseorang yang bercita-cita menjadi Guru. Aku juga tidak cukup sabar untuk bisa berhadapan dengan anak-anak. Makanya aku sangat takjub pada Oji yang menjadi pendiri sekolah ini. Aku seolah bisa membayangkan bagaimana pusingnya berhadapan dengan puluhan anak dengan karakter yang berbeda. Apalagi mereka lebih sering menggunakan bahasa daerah.

“Jadi kak Putri mau memberikan kejutan apa nih?” ujar Oji seketika membuatku kelabakan “Mau mengajar atau memberikan games mungkin?” lanjut Oji membuat aku semakin panik. Mengajar? Sumpah, aku sama sekali tak berbakat. Games apalagi. Bahkan merebut perhatian mereka pun aku tak yakin bisa. Bagaimana kalau mereka hanya menatapku aneh. Garing. Aku tak mau mengubah sekolah ini menjadi kuburan yang hening.

Setelah berpikir lama, aku tiba-tiba teringat sesuatu. Aku lantas mengeluarkan kertas origami dari dalam tasku. Aku memang selalu membawanya kemana-mana.

“Okey adik-adik semua, kali ini kak Putri mau mengajarkan kalian membuat burung origami” ujarku lalu mulai membagikan kertas berwarna-warni. Dan sambil melipat aku pun mulai mendongeng. Mungkin bakatku hanya sebatas ini.

“Menurut legenda, kalau kita membuat seribu burung origami dan menyimpannya dalam toples kaca, maka keinginan kita akan dikabulkan” aku sengaja memilih bahasa yang paling sederhana agar anak-anak ini bisa memahami ceritaku.

Ada dua orang kakak beradik yang sudah tidak memiliki orang tua. Yang mereka lakukan sehari-hari adalah mengumpulkan barang-barang bekas dan menjualnya untuk dibelikan makanan. Pada suatu hari, sang Kakak mengumpulkan kertas koran dari tempat sampah, lalu mengajari adiknya membuat burung origami. Sang kakak berkata, kalau membuat seribu burung origami, maka keinginan mereka akan terwujudkan. Lalu sang adik pun menjadi semangat melipat burung-burung itu.

Hari demi hari mereka melipat, burung-burung itu pun semakin banyak. Mereka melipat sambil tertawa-tawa seolah melupakan beban kehidupan yang berat. Hingga suatu hari datanglah seorang bapak dan sangat tertarik dengan burung-burung itu. Dia lalu menawari kedua kakak beradik itu untuk menukar burung-burung origami mereka dengan sepotong roti cokelat.

Awalnya sang kakak keberatan, dia mengingat semua perjuangan mereka melipat burung-burung itu. Dia teringat dengan keinginan mereka yang hampir terwujudkan.  Namun melihat sang adik yang begitu menginginkan roti cokelat, tergiur oleh rasa penasaran, karena mereka memang belum pernah menyantap roti selezat itu, akhirnya sang kakak merelakan setoples burung origami yang telah mereka lipat dengan penuh perjuangan. Dengan tawa canda dan cerita-cerita kehidupan yang sebenarnya tidak bisa digantikan, bahkan oleh roti cokelat selezat apapun. Tapi demi sang adik, dia pun merelakan segalanya. Termasuk keinginan mereka yang hampir terwujudkan.

Aku melihat anak-anak itu terdiam mendengar ceritaku. Oji pun terpaku disisiku. Mendadak suasana hening. Aku berharap, kelak anak-anak ini tidak akan menukarkan begitu saja cita-cita mereka dengan sepotong roti cokelat, sekalipun mereka sangat menginginkannya. Karena kehidupan bukan hanya tentang makanan yang lezat atau kebahagiaan yang bisa dinikmati sesaat.

“Okey, sekarang kita membuat pesawat” ujarku berusaha memecah hening. Anak-anak itu seolah tersadar dari lamunan panjang, lantas bersorak kegirangan. Oji membantuku membagikan kertas berwarna-warni. Lalu mengajari mereka membuat pesawat.

Setelah selesai, Oji dan anak-anak itu membawaku ke suatu tempat. Dimana aku bisa menyaksikan pemandangan kota dari kejauhan. Rumah-rumah yang berderet rapi layaknya miniatur yang dilihat dari pegunungan. Disinilah kita akan menerbangkan pesawat-pesawat penuh harapan ini.

“Sebelum menerbangkannya, kalian harus membisikkan cita-cita kalian, meniupkannya pada ekor pesawat, lalu menerbangkannya” ujarku penuh semangat. Anak-anak itu pun menyambutnya dengan tak sabaran.

“Siaapp...” teriakku. Dan mereka pun mulai membisikkan cita-cita mereka. Ada yang ingin menjadi dokter seperti Oji. Ada yang ingin menjadi tentara. Ada yang ingin menjadi guru. Dan entahlah mungkin ada yang ingin menjadi pendongeng sepertiku.

Lalu dalam hitungan ketiga, pesawat dari kertas berwarna-warni itu mulai diterbangkan. Meliuk-liuk diterpa angin menuju lembah, menuju perkotaan dibawah sana. Mengantarkan cita-cita mereka untuk diwujudkan disuatu masa. Aku melihat Oji sibuk mengabadikannnya dengan kamera. Ini pasti akan menjadi moment paling berharga. Dimana anak-anak itu terlihat sangat bahagia, tertawa-tawa, menyaksikan pesawat mereka terbang dengan sempurna. Diam-diam aku berdoa, semoga semua harapan mereka didengar oleh Sang Pencipta.

Saat membuka mata, anak-anak itu sudah berlarian untuk kembali membaca. Hanya ada Oji yang masih sibuk dengan kameranya. Aku yakin dia sempat mengambil gambar saat aku sedang khusyuk berdoa. Lalu aku teringat dengan satu pesawat yang sengaja aku buat untuknya.

“Kamu belum membisikkan harapan kamu” ujarku, lalu memberikan pesawat itu padanya. Dia tertawa kecil “Konyol” ujarnya, tapi tetap meraih pesawat kertas itu dari tanganku. Aku melihat Oji membisikkan sesuatu, meniupkannya pada ekor pesawat lalu mulai menerbangkannya. Giliran aku yang mengambil gambarnya. Senyum Oji mengembang seiring dengan terbangnya pesawat itu. Wajahnya terlihat sangat bahagia. Tulus, seperti cintanya pada anak-anak itu. 

“Jadi, kamu membisikkan harapan apa tadi?” tanyaku penasaran.

“Aku inginnya anak-anak itu tidak berpikiran kalau dengan tinggal di pegunungan mereka lantas tidak berhak akan pendidikan. Aku ingin mereka seperti anak-anak lainnya yang memiliki masa depan” ujarnya membuatku terpana.

“Harapan yang sangat mulia” seketika Oji tertawa.

“Semoga ini bukan karena pencitraan semata” candanya membuatku ikut tertawa.

            “Ji, soal orang-orang yang membenci, bahkan menghujat kamu, biarkan saja yah. Seperti yang pernah kamu bilang, kalau cinta itu tak berbatas. Kalau cinta akan tetap mengalir luas. Jangan menyerah yah, kamu harus terus berjuang untuk anak-anak ini”

            “Makasih yah Put” Oji tersenyum menatapku “Aku sendiri tidak tau akan sampai dimana dan sampai kapan aku bertahan. Yang aku tau, setulus apapun kita berbagi kebaikan, tetap akan ada yang membenci. Bahkan orang yang kita anggap sahabat sendiri, bahkan orang yang pernah sangat kita cintai. Orang yang selalu berdiri didepan dan membela kita, tiba-tiba saja sudah berada dibelakang dan menusuk kita. Sakit..” aku tau bagaimana sulitnya Oji melewati semua ini. Disaat teman-temannya berkata kalau semua yang dilakukannya hanyalah pencitraan semata. Bahkan orang yang pernah mencintainya pun tega melukai perasaannya. Tapi seperti itulah kehidupan. Bagaimana kita seharusnya bertahan.

            Aku dan Oji bangkit, bergegas menuju anak-anak itu untuk pamit. Langit sore hampir berubah gelap. Semoga saja kebahagiaan ini tidak ikut lenyap. Seperti matahari yang tenggelam dibarat. Esoknya dia akan terbit lagi dari tempat yang berbeda. Begitu juga kebahagiaan. Satu kebahagiaan bisa saja hilang. Tapi besoknya dia akan tergantikan dengan kebahagiaan lain dari tempat yang berbeda. Seperti itulah kehidupan.

            Motor Oji melaju meninggalkan kaki pegunungan. Membawa setumpuk harapan yang harus terus dia perjuangkan. Bukan untuknya. Bukan untuk komunitasnya. Tapi demi anak-anak itu. Karena berbuat kebaikan sudah menjadi tanggung jawab kita semua***   

14 Juni 2022

Cerpen "TEKHNOLOGI PENGHAPUS KENANGAN"

            Sepahit itukah kehidupanmu?

Secangkir kopi hitam pekat tersuguhkan diatas mejaku, dikuti tatapan penuh selidik dari pelayan yang meletakkannya. Lagu sendu dari penyanyi pilu seolah mencipta kolaborasi suara lagu merdu yang terdengar menyatu, mencoba menghabiskan waktu. Aku menatap sekelilingku, mengamati satu persatu.

            Seorang perempuan diujung meja sana sedang tersipu malu. Didepannya duduk seorang lelaki yang terus menatapnya. Sang perempuan semakin gugup, wajah putihnya seketika merona merah. Telapak tangannya terus dibanjiri keringat. Bahkan dibalik suara penyanyi pilu yang mengalun sendu, aku seolah bisa mendengar degup jantung perempuan itu. Dug..dug..dug.

Lelaki yang duduk didepannya seolah sudah memikatnya dengan gaya bicaranya yang dewasa, penampilannya yang bersahaja, tatapan matanya yang menyala dan senyum manisnya, seketika mengaktifkan bagian reseptor opioid dalam otaknya. Dan perasaannya menjadi sangat bahagia begitu saja. Diikuti terjadinya pelepasan hormon dopamine pada bagian otaknya dan berakhir dengan jatuh cinta. Disaat yang sama perempuan itu juga terlihat sangat tegang. Itu pasti karena hormone adrenalin.

Aku juga yakin malam nanti perempuan itu akan sulit tidur akibat hormon norepinefrin, seperti efek yang dialami ketika kamu meminum kafein.

            Orang selalu bilang cinta datang dari mata turun ke hati. Tapi menurutku itu tidak sepenuhnya terjadi. Menurutku cinta datang lewat dari indera ke rasio. Artinya, cinta yang ditangkap lewat indera harus diolah diotak sebelum turun ke hati. Dan otaklah yang harus menjadi pengendali dari cinta itu sendiri.

            Sinyal-sinyal dari alat indera itu yang merangsang otak untuk memproduksi sejumlah senyawa kimia yang kemudian menyebar keseluruh tubuh. Karena bagiku, cinta adalah proses kimiawi, bukan semata emosi.

            Jika orang yang jatuh cinta suka tersenyum, tersipu-sipu, wajahnya memerah, tangan berkeringat dingin atau nafas tak teratur. Itu semua adalah reaksi kimiawi dari cinta. Merangsang produksi dopamine dan norepinephrine dibagian otak, yang bila mengalir ke seluruh tubuh akan menimbulkan perasaan gembira dan bahagia.

            Disebelahnya seorang perempuan duduk dengan hati yang patah. Jika jatuh cinta dianggap seperti mengkonsumsi kokain, maka patah hati dianalogikan seperti pecandu yang berhenti mengkonsumsi zat adiktif apapun. Ketika patah hati, seketika tubuh akan kehilangan neurotransmitter pengantar perasaan bahagia yang mulanya banyak membanjiri tubuh. Rasa sakit yang muncul pada saat patah hati bukan hanya sekadar rasa sakit emosional, namun juga fisik. Secara ilmiah patah hati, perasaan dicampakkan, dan kekecewaan mengaktifkan bagian otak yang merespons rasa sakit pada bagian tubuh meski tidak ada luka fisik.

Patah hati juga menyebabkan bagian korteks prefrontal seseorang menjadi tidak berfungsi, yang berpengaruh pada kemampuan untuk menganalisis informasi secara objektif. Ketika dihadapkan pada kondisi ini, otak akan memasuki kondisi panik dan, tubuh akan dibanjiri oleh hormon stress seperti kortisol dan epinephrine yang mengakibatkan kram, sakit kepala, nyeri dada, dan kelelahan. Terkadang kondisi ini bertahan cukup lama bergantung pada seberapa cepat orang tersebut untuk “move on”

            Telponku berdering panjang, membuatku tersentak dari segala penelitianku barusan. Aku buru-buru mengangkatnya

            “Halo”

            “Ini dengan Tuan Arka?”

            “Iya benar”

            “Saya sudah membaca pesan anda. Dan sepertinya saya bisa menolong anda”

            “Baiklah” setelah menerima alamat yang dia kirimkan diponselku, aku bergegas menuju tempatnya. Kutinggalkan selembar uang lima puluh ribuan diatas meja lalu meninggalkan kedai ini. Bergegas mencari taksi.

            Jalanan yang kulalui seolah menghempasku pada lorong waktu dimana aku melihat kendaraan dan orang yang lalu lalang bergerak mundur dalam settingan slow motion. Dan kenangan seperti bertebaran dimana-mana. Seperti potongan kertas yang dihamburkan dengan sengaja. Memenuhi sekelebat pandangan mata, sehingga aku tak bisa melihat hal lainnya kecuali wajahnya. Catatanku memang penuh dengan ingatan samar masa lalu, ingatan tentang perempuan…. Hingga seorang pria yang menghela nafas kemudian berlalu. Kemudian mencatatnya untuk terbaca oleh orang yang tak ingin tahu. Sedikit melegakan untuk menyambut hal-hal yang baru, hingga aku benar-benar bosan mengingat masa lalu.

            Aku turun dari taksi dan menghampiri sebuah bangunan kecil, yang lumayan jauh dari perumahan orang-orang. Bangunan dengan cat dasar hijau muda ini berdiri sendiri, tanpa bangunan lain disebelah kanan dan kirinya. Agak tenang memang, jauh dari kebisingan. Aku melangkah masuk dan membaca sebuah tulisan dipapan depannya “Klinik Penghapus Kenangan”. Seketika aku merasa sedang berada ditempat yang seharusnya

            Kehadiranku lantas disambut seorang perempuan dengan baju mirip perawat dirumah sakit

            “Tuan Arka?” ujarnya mematikan. Aku mengangguk, sambil mengamati seisi ruangan ini. Sepi

            “Silahkan. Tuan sudah ditunggu dari tadi” lanjutnya lalu mengantarkan aku kedalam sebuah ruangan. Didalam ruangan sudah menunggu seorang bapak yang berpakaian layaknya dokter. Hanya saja pakaiannya terkesan lebih santai. Dia memintaku untuk duduk

            “Selamat. Tuan sudah datang ditempat yang tepat. Saya bisa membantu Tuan” ujarnya percaya diri

            “Bagaimana caranya?” tanyaku tak yakin. Meksipun aku tau teknologi sekarang begitu canggih.

            “Tuan perlu tau kalau ingatan itu seolah-olah terbuat dari kaca, ada dalam keadaan cair saat sedang dibuat, sebelum berubah menjadi padat. Namun ketika ingatannya kembali, ia menjadi cair lagi sehingga bisa diubah sebelum sekali lagi diatur ulang”

            “Memori terbentuk ketika protein menstimulasi sel-sel otak untuk tumbuh dan membentuk koneksi-koneksi baru, jaringan-jaringan baru, yang akhirnya membangun sirkuit pikiran manusia. Sejak saat itu memori tersimpan baik di bilik jangka pendek (short-term) maupun bilik jangka panjang (long-term)”

“Memori jangka panjang bersifat tidak stabil. Ia cenderung melunak saat dikunjungi. Prosesnya bernama rekonsolidasi. Hal ini menjelaskan mengapa memori bisa berubah dari waktu ke waktu, sesuai dengan respons emosional orang yang bersangkutan terhadap memori tersebut”

“Lalu bagaimana caranya Anda bisa menghapus kenangan dari otak saya” tanyaku tak mengerti. Bapak didepanku tersenyum penuh arti

“Serahkan pada kami” ujarnya sambil memikirkan, mungkin dia akan memakai cara pertama “rekonsolidasi” yaitu berusaha menetralkan perasaan dengan cara memblok norepinapherine. Atau mungkin cara kedua dengan menghirupkan gas xenon sambil memaksa pasiennya menginat kenangan yang ingin dihapusnya. Gas ini kemudian akan menargetkan reseptor otak, yang diasosiasikan dengan ingatan. Proses ini kemudian akan menghilangkan konotasi negatif dimemori tadi

Aku kemudian dibawa masuk kedalam ruangan berdinding kaca dengan berbagai alat dan kabel yang tidak aku mengerti. Aku mungkin pernah melihatnya difilm-film dalam adegan ingin mencuci ingatan. Mungkin prosesnya juga sama dengan yang akan aku lalui sekarang.

Sebuah alat dipasangkan pada kepalaku. Dan dokter itu memencet beberapa tombol sehingga menyalakan lampu. Aku tidak merasakan takut sama sekali, malah aku sangat tidak sabaran melalui proses ini. Kupejamkan mataku perlahan, dan seketika kenangan itu memenuhi otakku. Berkeliaran disisi otak kiri dan kanan. Seperti hantu-hantu gentayangan. Alat dikepalaku mulai berproses. Aku merasa kenangan itu seperti diacak oleh sinar laser yang ditembakkan. Kepalaku seperti berkunang-kunang, membuatku nyaris kehilangan kesadaran. Sayup-sayup aku mendengar suara yang entah dari mana

Kamu mungkin bisa menghapus kenangan dari otakmu. Tapi tidak dengan hatimu. 


02 September 2021

Cerpen "HUJAN PERTAMA DI HARBIN"

            Jalanan Zhongyang Dajie terlihat basah. Beberapa orang nampak berteduh dibawah kanopi atap sepanjang pertokoan, menunggu hujan reda. Dulunya tempat ini dipenuhi gedung-gedung bersejarah dengan arsitektur bergaya eropa, yang kini telah beralih fungsi menjadi toko, restoran, kafe, hotel, bahkan apartemen, tanpa menghilangkan esensi sejarah dan estetika seninya. Ini hujan pertama sejak aku berada di Harbin, kota yang mendapat julukan oriental moskwa yang merupakan Ibu kota Provinsi Heilongjiang. Tak ada yang berbeda, hujan disini pun sama seperti di Indonesia. Hanya saja di Harbin terasa lebih dingin dengan suhu minus sepuluh derajat. Teringat pertama kali aku keluar dari Bandara Udara Internasional Taiping Harbin, hawa dingin menjalar dengan cepat sampai membuat darah seperti berhenti mengalir, menusuk-nusuk tulang hingga membuat sulit bergerak. Wajah terasa menebal seketika, bibir kering dan bernafas pun begitu berat. Aku pikir aku tidak akan mampu bertahan. Tapi setelah lebih dari sebulan berada disini, aku mulai terbiasa.

            Tadinya aku hanya ingin membeli beberapa stock makanan cepat saji di Chao Shi Midoudou, swalayan langgananku, bahkan aku sudah punya kartu member saking sering belanja ditempat ini. Disini harganya lebih murah untuk ukuran mahasiswa sepertiku. Aku membeli beberapa mie, jiaozi dan beberapa makanan box yang bisa aku masak kalau sedang terburu-buru. Hingga akhirnya aku terjebak hujan disini.

            Aku merapatkan jaketku, lalu meniup-niup telapak tanganku yang mulai membeku. Sesekali menatap langit kelabu, berharap buliran-buliran bening yang jatuh menghempas tanah itu segera lenyap, entah berubah jadi uap atau menjelma embun dikaca jendela. Aku hanya ingin bisa segera sampai di apartemenku, tanpa harus nekat basah kuyup lebih dulu yang membuat sekujur tubuhku asli membeku.

            “Xian sheng, Ni dai yusan ma?”1 aku menoleh pada Ibu penjaga swalayan yang akrab dipanggil Ayi. Dia memang sudah mengenalku karena sering belanja disini

            “Mei dai,wangji le” 2 aku tersenyum sambil menggaruk kepalaku

            “Na, Gei ni wode?” 3 tawarnya membuatku cepat-cepat menolak

          “Bu yong, xie xie Ayi”4 ujarku sopan. Aku juga tidak sedang terburu-buru. Dan mungkin aku bisa menikmati hujan dari sini.

Sebenarnya aku bukan tipe orang yang sangat menyukai hujan, menganggap kehadiran hujan sebagai sesuatu yang istimewa. Yang kadang begitu dipuja. Bagiku arti hujan hanya satu, yaitu aktivitas yang terganggu. Lalu menunggu sampai sang hujan berlalu. Tapi aku pernah mendengar penelitian ilmuwan, bahwa hujan dapat menghipnotis manusia untuk me-resonansi-kan ingatan dimasa lalu. Saat hujan turun, kadar serotonin dalam otak ikut menurun sehingga mood berubah dan membuat seseorang melamun dan menjadi melankolis. Aku sebenarnya tidak terlalu percaya dengan teori itu, meski beberapa orang pernah mengalaminya. Aku melihat jalanan aspal didepanku mulai menggenang dibeberapa bagian.

        “Hujan tak pernah kehilangan sisi keromantisannya, sekalipun dia menyebabkan banjir atau genangan dijalanan” seketika suara itu menggema ditelingaku, seolah menarikku dalam lorong waktu. Lalu aku melihat orang-orang yang berteduh tadi, juga kendaraan yang lalu lalang seolah bergerak lambat layaknya adegan slow motion dalam sebuah film. Dan aku seperti terhempas dimasa lalu.

Didalam hujan ada lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu” aku tidak sedang mendengar lagu sekarang, tapi aku mendengar suara perempuan itu. Perempuan pecinta hujan dan keromantisan. Dia selalu menyebut dirinya Pluviophile.

“Kamu tau, orang yang menyukai hujan biasanya lebih bahagia. Para pluviophile dianggap lebih menikmati kehidupannya saat ini dan mereka lebih percaya diri. Mereka juga bisa melihat keindahan dalam sesuatu yang banyak orang anggap sebagai kesedihan. Dan para pluviophile terbukti lebih kuat bertahan” ujarnya seolah sedang membicarakan dirinya sendiri. Dan semua yang dia katakan adalah benar. Dia perempuan paling ceria dan bersemangat yang pernah aku kenal. Aku menyukai tawanya yang kadang seperti menular, membuatku selalu merasa bahagia setiap kali bersamanya.

“Kenapa kamu menyukai hujan?” tanyaku waktu itu. Dan seperti biasa dia tersenyum, lalu menatap bulir-bulir bening yang sedang jatuh dari langit.

“Karena dalam hujan selalu ada makna yang tersimpan dan terlepaskan. Karena hujan selalu memberiku ketenangan” mendengarnya aku justru tertawa.

“Percuma menyukai hujan. Percuma mengistimewakan hujan, kalau saat hujan seperti ini kamu malah berteduh” ledekku membuatnya kesal.

“Kayak aku dong, tidak begitu memuja hujan, tapi aku berani menembusnya” selepas mengucapkan kata-kata itu, aku berlari meninggalkannya yang masih berteduh dikoridor depan toko buku. Sore itu dia memintaku menemaninya ke toko buku, lalu kita terjebak hujan. Sayangnya, aku tidak memiliki mobil yang bisa melindunginya dari panas dan hujan.

Mungkin kesal atau tersinggung dengan ledekanku, dia akhirnya berlari mengikutiku menembus hujan. Pakaiannya basah kuyup, begitu juga dengan rambut panjangnya. Tapi aku melihat dia tetap tersenyum bahagia. Lalu besoknya dia diopname. Dan aku baru tau kalau ternyata dia mengidap asma dan tubuhnya tidak tahan dingin. Saat itu aku benar-benar merasa bersalah padanya. Bahkan aku berjanji pada diriku sendiri, kalau aku akan melindunginya dari hujan. Kalau aku akan memarahinya kalau dia sampai nekat main hujan.

Satu tetes air hujan tanpa sadar membasahi rambutku, membuatku seolah kembali ke masa sekarang. Hujan telah menghempaskanku kembali ke tempatku berada saat ini. Apakah benar teori resonansi ingatan itu? Mungkinkah aku baru saja mengalaminya? Aku menatap buliran-buliran bening itu yang jatuh menghempas tanah.

Kalau kita tiba-tiba memikirkan seseorang, berarti orang itu juga sedang memikirkan kita” suara perempuan itu menggema lagi. Mungkinkah dia sedang memikirkanku sekarang? Apakah ditempatnya juga sedang hujan?

Sayangnya, perempuan itu kini membenciku. Saat aku mendapat beasiswa S2 di Harbin, aku tidak memberitahunya. Bukan tidak ingin, tapi aku masih belum yakin dengan keputusanku. Saat itu aku masih bimbang antara ingin berangkat atau tidak. Aku ingin memberitahunya nanti kalau aku benar-benar sudah siap. Tapi akhirnya dia lebih dulu mendengar kabar itu dari orang lain. Dan itu membuatnya sangat kecewa.

            “Padahal aku yang selama ini mendukung kamu meraih mimpimu, tapi ketika kamu lulus, kamu bahkan tidak memberitahuku” belum pernah aku mendengar dia semarah itu. Sorot matanya memendam kekecewaan yang dalam “Atau mungkin aku bukan orang yang pantas untuk diberi tau” itu kata-kata terakhir yang aku dengar darinya dan setelah itu dia tidak pernah menghubungiku lagi. Bahkan ketika aku akan berangkat ke China, dia tidak mengantarku ke Bandara. Jangankan mengantar, mengucapkan selamat tinggal pun tidak. Mungkin dia benar-benar marah padaku. Dan aku sangat menyesal. Aku membenciku diriku sendiri.

            Aku bukannya tidak menganggap keberadaannya sama sekali, bahkan jika dia tau, sebenarnya dia adalah orang yang sangat penting untukku. Hanya saja aku tidak tau cara menyampaikannya. Aku terlalu kaku untuk mengekspresikan perasaanku. Dan semuanya sudah terlanjur membeku. Dia tak pernah lagi menghubungiku. Dan saat hujan kali ini tiba-tiba saja aku merindu.

            “Hey, yu ting le” 5 suara itu mengagetkanku. Dan aku melihat hujan sudah berenti, meski dingin masih menyelimuti “Tian na, ni zai zuo meng a?” 6 Ayi meledekku dan aku hanya tersipu malu. Ternyata benar, hujan bisa menghipnotis manusia dan menjebaknya dalam dimensi waktu.

            “Ayi, wo xian zou, bai bai” 7 pamitku lalu bergegas meninggalkan Miduoduo. Aku baru saja akan menyebrang jalan menuju apartemenku ketika ponselku tiba-tiba berdering. Dari nada deringnya, aku tau kalo itu pesan whatsapp, berarti seseorang dari Indonesia yang menghubungiku. Di China kita lebih sering menggunakan aplikasi wechat.

Aku membuka ponselku, begitu penasaran. Lalu membaca pesan yang tertulis disana

Wo xiang ni8

Seketika aku tersenyum, apalagi ketika tau kalau pengirim pesan itu adalah perempuan yang sedang aku pikirkan. Sejak kapan dia belajar bahasa mandarin. Aku masih saja tersenyum dan aku janji setiba diapartemenku nanti, aku akan langsung menelponnya dan menceritakan tentang hujan pertamaku di Harbin. Sebentar lagi imlek. Dan menurut urban legend yang aku dengar disini, bahwa hujan dianggap sebagai suatu keberuntungan. Hujan dihari imlek dimaknai sebagai awal yang bagus dalam musim semi. Selain itu masyarakat Tiongkok juga meyakini jika turunnya hujan berarti Dewi Kwam Im sedang menyiram bunga Mei Hua yang mana bisa diartikan sebagai turunnya berkah dari langit. Aku yakin perempuan itu akan sangat exicted mendengar ceritaku, yang membuatku sudah tak sabar ingin cepat-cepat sampai diapartemenku dan menelponnya.

Ketika aku akan menyeberang jalan, tepat didepanku aku melihat pelangi melengkung dilangit Harbin. Sungguh sangat indah. Betapa hujan kali ini menghadiahkan aku tentang banyak hal yang tidak pernah kualami sebelumnya. Dan mungkin mulai saat ini aku akan menyukai hujan sesering aku merindukannya*** (Juara 1 Lomba Menulis Cerpen Remaja yang diselenggarakan Cahaya Pelangi Media dengan tema Hujan)

 Catatan:

  1. Apa kamu tidak membawa payung?
  2. Iya, aku lupa
  3. Mau saya pinjamkan payung?
  1. Tidak perlu, terima kasih bibi
  2. Hujannya sudah berhenti
  3. Astaga, kamu melamun yah?
  4. Bibi, aku pergi dulu
  5. Aku merindukanmu 

02 Februari 2021

Cerpen "MEMESAN KENANGAN"

Aku baru tau ada perempuan pecinta kopi sepertinya. Dia bisa saja menghabiskan dua sampai tiga gelas kopi sehari, jika lambungnya lagi bersahabat. Katanya kopi itu sumber kebahagiaan.  Kalau ingin membuatnya bahagia, cukup mentraktirnya segelas kopi saja. Aku juga baru tau kalau dia perempuan penikmat sepi ditengah keriuhan malam. Diantara suara klakson dan bebisingan orang-orang, dia menikmatinya seolah sepi seperti itulah yang dia cari. Dan tempat menyepi yang dipilihnya saat ini adalah kedai kopi, yang menurutku sama sekali jauh dari kata sepi.

Bagiku dia perempuan ajaib. Dia mencintai sepi, sementara dia menghidupi dirinya dengan menjadi bising: menjadi penyiar radio.

            “Kenapa kamu harus menjadi penyiar radio jika tidak suka kebisingan?” tanyaku penarasan.

            “Karena kadang kita butuh banyak bising untuk menyadari bahwa sepi itu ada”

Ucapannya benar, malam hari sepulang kerja, saat terjebak ditengah kemacetan tanpa punya teman bicara, diantara suara klakson dan bebisingan orang-orang, kadang aku melarikan diri lalu mendengarkan suara perempuan ini berbicara tentang satu dua hal. Mendengarkan dia membacakan puisi dengan sangat sedih. Lalu bukannya terisi, hatiku malah bertambah sepi. Hanya ada suaranya yang sendu dan rindu.

            “Lalu kenapa kamu sangat menyukai kopi?” tanyaku lagi, masih penasaran.

          “Karena kopi dan perempuan adalah dua hal yang sama, sama-sama keras kepala perihal rasa” seketika aku tertawa mendengarnya. Lalu dia pun mulai bercerita panjang lebar tentang legenda dan mitos dari kopi. Juga tentang kopi yang bisa membuatnya bahagia. 

Dia bercerita seolah dia ahlinya, dan aku hanya mengangguk-angguk mendengar semua ceritanya. Aku memang selalu terhibur dengan cerita-ceritanya, apalagi cara dia bercerita. Suaranya merdu, pengucapannya jelas, tak heran kalau dia pernah menjadi Best Announcer diradionya.

      “Aku baru saja apply beasiswa keluar negeri” ujarnya tiba-tiba. Mungkin ini maksudnya mengajakku bertemu malam ini, disaat aku baru saja pulang kerja dan sebenarnya sangat lelah. Menjadi pegawai disalah satu bank swasta memang menguras cukup banyak waktu dan tenaga.

            “Kok tiba-tiba?” tanyaku menyelidiki.

            “Sebenarnya ini impianku sejak lama. Aku ingin kuliah di luar negeri. Kalau bisa sih di Itali”

            “Karena?”

            “Kali aja aku bisa ambil Master in Coffee Economics and Science-Ernesto Illy”

            “Segitunya kamu cinta sama kopi?”

            “Karena selama ini barista selalu identik dengan laki-laki. Padahal perempuan juga bisa”

            “Ternyata benar yah”

            “Apa?”

        “Kalau perempuan dan kopi sama-sama keras kepala” kulihat dia tertawa “Mungkin aku baru akan menjadi pecinta kopi kalau kamu baristanya” lanjutku bercanda.

            “Mereka yang tidak menyukai kopi adalah orang-orang yang takut menghadapi kehidupan” aku pun akhirnya ikut tertawa.  Aku memang tidak menyukai kopi, karena setiap kali meminumnya, lambungku selalu bermasalah.

    “Kalau nanti aku pergi, kamu nggak akan merasa kehilangan kan?” mendengarnya aku seketika terdiam. Terus terang aku tidak pernah berpikir kalau perempuan ini akan pergi meninggalkanku suatu saat nanti.

          “Yang pasti, aku akan selalu mendukung semua mimpimu” jawabku tersenyum. Aku tau, mungkin nanti aku akan merasa kehilangan. Tapi aku juga tau kalau dia memiliki sayap untuk bisa terbang sejauh yang dia inginkan, tanpa bisa aku kekang.

            “Aku pasti rindu kalau tidak bisa menemuimu lagi” ujarnya jujur seketika membuatku tertawa. Dan aku yakin wajahku pasti sudah memerah.

            “Sekarang kan teknologi sudah canggih. Kamu bisa menghubungiku kapan saja” kulihat dia mengangguk, lalu meneguk habis kopinya tak bersisa. Seolah-olah dia baru saja meneguk wine atau sake.

         “Belakangan ini, aku rasa… aku mulai menyukaimu lebih dari sekedar teman” ujarnya membuatku terkejut “Aku rasa kita mulai memiliki banyak kesamaan. Kamu mulai menyukai semua hal yang aku suka. Dan aku nyaman bercerita apa saja ke kamu. Aku merasa kamu satu-satunya orang yang paling mengerti aku” mungkin benar kalau dia baru saja meneguk wine atau sake hingga ucapannya bisa ngawur seperti ini.

“Apakah kamu memiliki perasaan yang sama?” lanjutnya membuatku terpaku. Sungguh aku sama sekali tidak siap dengan penembakan ini, meski memang kita berdua sudah lama dekat. Hampir lima tahun kita bersahabat. Dan aku tidak percaya kalau perempuan ini yang akan lebih dulu mengungkapkan perasaannya.

“Maaf. Tidak” hanya dua kata singkat itu yang bisa aku ucapkan.

“Okey, kalau begitu kita tidak perlu berhubungan lagi” aku bisa melihat sorot kecewa dalam tatapannya.

            “Jangan pernah menghubungiku lagi untuk alasan apapun. Jangan pernah komen sosial mediaku lagi. Dan aku pun akan melakukan hal yang sama. Aku janji” lanjutnya membuatku tak bisa berkata apa-apa, meski banyak penyangkalan yang sebenarnya ingin kukatakan padanya.

             “Baiklah, jika itu bisa membuatmu bahagia”

            “Dan jika suatu saat nanti kamu menghubungiku lagi untuk alasan apapun, itu berarti kamu takut kehilanganku. Itu artinya kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku!!” tegasnya lalu beranjak pergi, menghilang dibalik gelapnya malam. Dan kebodohan yang kulakukan malam ini, aku hanya terdiam. Tidak mengejarnya atau kemudian menelponnya dan meminta maaf. Malam ini aku hanya terpaku disudut kedai kopi yang perlahan menyepi. 

***

         Malam ini, dikedai kopi yang sama, disudut yang sama, tepat jam sembilan malam, waktu yang seharusnya aku sudah berada dirumah dan berbaring menghilangkan lelah, justru membawaku kesini. Ternyata benar, kopi selalu berteman dengan kenangan. Jika kamu meneguk segelas kopi, ada kenangan yang akan menggenang didasar gelasnya.

            Sejak malam itu, aku dan perempuan itu tidak pernah berhubungan lagi. Kabar terakhir yang kudengar dia sudah berangkat ke Italia menggapai mimpinya. Foto-foto bahagianya sempat kulihat dibeberapa akun sosial medianya. Dan dia pergi tanpa pamit padaku atau sekedar mengucap salam perpisahan.

Dia menepati janjinya untuk tidak menghubungiku lagi. Dan aku pun menepati gengsiku untuk tidak menghubunginya lagi dengan alasan apapun. Meski dibeberapa momen aku ingin sekali menanyakan kabarnya atau mengomentari story-nya. Tapi seperti janjiku, aku tidak melakukannya. Karena jika aku menghubunginya lagi, itu artinya aku telah membohongi perasaanku sendiri. Aku bahkan tidak tau bagaimana perasaanku yang sebenarnya. Selama lima tahun bersahabat, dia satu-satunya perempuan yang membuatku nyaman. Dia perempuan yang padanya aku bisa bercerita apa saja. Yang dengannya aku bisa menjadi diriku apa adanya.

Memang tidak akan ada persahabatan yang benar-benar murni antara lelaki dan perempuan. Keduanya pasti memiliki keterikatan hubungan. Entah siapa yang duluan menyimpan perasaan terhadap yang lainnya. Tapi aku sama sekali tidak membencinya karena telah mengkhianati persahabatan kami. Aku justru merasa bersalah karena telah membuatnya kecewa. Dan itu membuatku menyesalinya.

       Malam ini, setelah ribuan malam yang aku lewati, tiba-tiba saja aku merindukannya. Rindu yang sangat dalam. Rindu yang tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Sebuah rindu yang mungkin bisa terobati hanya dengan aku menghubunginya. Tapi semenjak beberapa bulan lalu, dia telah menghapus aku dari kontak whatsapp-nya sehingga aku tidak bisa lagi melihat story-nya. Dia juga sudah unfollow aku dari semua akun sosial medianya. Hingga aku benar-benar tidak tau lagi kabar tentangnya. Dan aku baru merasa kalau kehilangan itu bisa sesakit ini. Kalau rindu itu bisa se-sesak ini.

            Aku memesan segelas kopi hitam pekat, favoritnya. Sejak kehilangannya aku mulai menjadi pecandu kopi. Katanya, sedih bisa dibunuh dengan mudah oleh secangkir kopi. Kepulan asapnya membawa aroma menenangkan, menghirup aroma kopi bisa membuat saraf mengendur. Kalau ada saraf yang mengatur rasa rindu, dia juga akan mengendur. Dan setiap kali ingin bekerja aku harus minum kopi agar bisa lebih berkosentrasi. Agar pikiranku tidak mengembara kemana-mana. Katanya secangkir kopi akan menggiring pada sepotong ingatan tentang seseorang. Secangkir kopi kadang menjadi harga yang harus dibayar untuk bisa bertemu seseorang.

Dan malam ini aku baru sadar, aku bisa saja mendatangi semua kedai yang pernah kita singgahi, menyapa kenangan dan memesan beberapa gelas kopi. Tapi satu hal, aku tetap tak bisa memesan kehadirannya disini, sekalipun aku sangat merindunya setengah mati. @murthyf.rone

Cerpen ini dibuat dalam bentuk puisi musikal bisa dengar di SPOTIFY

  

20 Agustus 2020

Cerpen "OPPA OTTOKE?"


(Kim Hee Rae)

            Suasana Book Cafe yang tenang, membuat aku semakin larut dalam lamunan. Meski suasananya yang terkesan mirip dengan perpustakaan, tapi Cafe ini adalah tempat favoritku di Gangnam. Ditempat ini aku selalu bisa menenangkan diriku setiap kali ada masalah. Dan lagi, di Cafe ini aku bisa menikmati kopi favoritku.

Aku menopang daguku dengan dua tangan sambil memandang kosong segelas kopi didepanku. Pikiranku kembali melayang jauh. Lagi-lagi aku memikirkan dia. Meski sudah berusaha menepis jauh bayangannya dari benakku, tapi tetap saja bayangan itu selalu kembali, memenuhi pikiranku, berkali-kali. Aku sendiri bahkan sudah kehabisan cara untuk memusnahkan bayangannya

            “Aku rasa kamu benar-benar sudah jatuh cinta sama dia” ujar Hyun Ki, menyadarkan aku dari lamunan

            “Mwo?1” seruku kaget “Ahh... Ani2” jawabku mengelak “Maksudku, aku sendiri belum yakin kalau aku benar-benar jatuh cinta sama dia. Siapa tau saja ini hanya perasaan sesaat yang sebentar lagi menghilang” jawabku tak yakin. Karena sebenarnya perasaan ini sudah lama kurasakan dan belum juga menghilang sampai sekarang.

            Sudah lebih dari tiga bulan ini aku mengikuti Les Privat Bahasa Indonesia. Itu karena tak lama lagi Appa3 akan pindah kerja di Indonesia dan kami sekeluarga ikut pindah kesana. Appa memang orang Indonesia asli yang dulunya bekerja di Korea sampai akhirnya menikah dengan Eomma4.

Awalnya aku tidak terlalu tertarik untuk ikut privat ini. Aku pikir saat sudah tinggal di Indonesia nanti, aku pasti bisa berbahasa Indonesia dengan sendirinya. Tapi saat bertemu Soo Jin Oppa5, aku tiba-tiba menjadi sangat semangat. Bagiku, dia guru privat yang benar-benar keren.

Soo Jin Oppa adalah salah satu Mahasiswa berprestasi di Universitas Woosong yang mengambil jurusan Bahasa Indonesia. Katanya, dia sangat tertarik dengan Indonesia. Apalagi dengan kebudayaannya. Dan kalau nanti kuliahnya sudah selesai, Soo Jin Oppa ingin bekerja di Indonesia. Dan aku berharap aku bisa bertemu dia nanti di Indonesia.

Soo Jin Oppa bagiku adalah sosok yang sangat dewasa. Dia bukan hanya sekedar guru privat untukku, tapi juga teman curhat yang paling menyenangkan. Dia banyak memberiku nasihat yang bijaksana. Dia juga selalu sabar meladeni sikapku yang manja. Pesan-pesan singkatku yang tidak penting, namun selalu dibalasnya. Yang pasti, aku selalu merasa nyaman saat berada didekatnya.

“Hee Rae” panggil Hyun Ki, lagi-lagi menyadarkan aku dari lamunan “Kenapa kamu bolos kursus hari ini? Bukannya kamu selalu semangat setiap kali akan bertemu Oppa-mu itu?” lanjutnya membuatku mendesah panjang

“Itu dia....” ujarku tak semangat “Aku takut akan semakin jatuh cinta jika terlalu sering bertemu dia. Ada pepatah yang bilang kalau Cinta bisa tumbuh karena terlalu sering bersama. Dan mungkin proses itulah yang sedang terjadi diantara kita” jelasku membuat Hyun Ki terlihat bingung

“Jadi, sekarang aku ingin menghindar dari Soo Jin Oppa. Aku takut berharap dari sesuatu yang tidak pasti. Lagi pula aku juga belum yakin tentang perasaannya padaku. Dan aku juga pernah dengar....”

“Dengar apa??” tanya Hyun Ki karena aku tidak melanjutkan ucapanku, malah terdiam

“Hee Rae” Hyun Ki terlihat penasaran. Dan aku hanya tersenyum padanya, lalu meneguk habis segelas kopi milikku

“Pulang yuk” ajakku seketika membuatnya mendesah sebal

“Tapi pertanyaanku belum dijawab” ujarnya lagi

“Sudahlah, tak penting” balasku, lalu menarik Hyun Ki bangkit dari kursinya. Aku masih saja menggandeng lengan Hyun Ki saat kita keluar dari Cafe. Dan tepat didepan pintu, aku bertemu seseorang....

***

 (Lee Soo Jin)

Entah mengapa sejak tadi aku merasa tidak konsentrasi saat mengajar. Tidak seperti sore-sore yang lain. Malah akhirnya aku lebih memilih memberikan pekerjaan rumah, agar jam privat sore ini segera berakhir. Tiba-tiba aku merasa seperti kehilangan. Entah apa? Apa karena salah satu siswaku tidak masuk kursus sore ini? Tapi mengapa aku harus merasa kehilangan?

            “Oppa...” panggilan itu seketika membuatku kaget

“Yun Ha? Sedang apa disini?”

            “Kebetulan aku baru pulang kerja. Aku bosan, jadi aku ingin ajak kamu jalan-jalan. Kamu sudah selesai ngajar kan?”

            “Iya, ini baru selesai. Kamu mau kita jalan kemana?”

            “Terserah” ujarnya membuatku berpikir sejenak

            “Kita ke Cafe saja yah”

            “Okey” jawabnya setuju. Aku kemudian membereskan barang-barangku, lalu pergi bersama Yun Ha. Dan entah mengapa sepanjang jalan aku terus saja diserang perasaan kehilangan yang sejak tadi kurasakan.

***

(Kim Hee Rae)

Aku terpaku didepan pintu cafe saat menatap seseorang yang kini berdiri didepanku. Seseorang yang sebenarnya ingin kuhindari, hingga sengaja bolos kursus hari ini. Tapi mengapa dia bisa berada ditempat yang sama denganku. Apa ini yang namanya kebetulan?

     “Hee Rae..” ujarnya terkejut melihatku. Dan dia juga ikut melihat lenganku yang masih menggandeng lengan Hyun Ki

          “Soo Jin Oppa” ujarku lalu ingin cepat-cepat melepaskan tanganku dari lengan Hyun Ki. Aku takut Soo Jin Oppa akan salah paham. Aku tak mau dia berpikir kalau Hyun Ki adalah pacarku. Aku tak mau dia cemburu.

Tapi, baru juga aku ingin melepaskan tanganku dari lengan Hyun Ki, aku lebih dulu melihat tangan seorang gadis melingkar dilengan Soo Jin Oppa. Persis seperti yang sedang kulakukan pada lengan Hyun Ki saat ini

Nugu6 Oppa?” ujar gadis yang muncul dari balik punggung Soo Jin Oppa


“Siswa aku” jawab Soo Jin Oppa pelan, masih terus menatapku. Sementara aku semakin mempererat gandenganku pada lengan Hyun Ki. Seketika aku merasa seperti kehilangan pijakan

 “Kita duluan yah” ujar Hyun Ki memecah hening “Hee Rae, Kaja7” kalau tadi aku yang menggandeng lengannya, kini Hyun Ki yang menarik lenganku, membawa aku menjauh dari Soo Jin Oppa dan gadis itu yang aku yakin adalah pacarnya.

Hyun Ki memberiku helm, lalu meminta aku segera naik keboncengannya. Aku pun hanya menurutinya, seperti sebuah robot yang mengikuti perintah. Aku bahkan tak bisa lagi mengontrol diriku sendiri. Aku belum pernah sekacau ini. Aku belum pernah sesedih ini.

Motor Hyun Ki terus melaju dijalan raya sepanjang Yeoksam-dong. Gedung-gedung perkantoran nampak menjulang kelangit malam yang mulai gelap. Lampu-lampu jalan mulai menyala, memantulkan sedikit cahaya dari wajahku yang sudah dibasahi air mata. Entah mengapa aku bisa merasa sesedih ini

“Hee Rae” panggil Hyun Ki dari balik helm “Kamu baik-baik saja?” tanyanya khawatir

Ne8” jawabku pelan, berusaha menahan air mata yang siap mengalir diwajahku saat ini. Ada sesak yang tiba-tiba menyeruak dari dalam hati. Aku pasti sedang patah hati.

Sejak awal aku memang sudah pernah mendengar kalau Soo Jin Oppa sudah memiliki yogja chingu9. Teman-teman kursusku pernah melihat mereka jalan berdua. Tapi aku seolah tidak ingin percaya dengan semua itu, sebelum aku melihatnya sendiri. Apalagi sikap Soo Jin Oppa padaku selama ini sangatlah berbeda. Dia selalu membuatku merasa istimewa. Dan kedewasaannya yang membuatku akhirnya jatuh cinta. Meski aku tau, kalau Soo Jin Oppa tak akan mungkin menyukai siswa SMA sepertiku. Usia kita berbeda enam tahun. Dia pasti akan lebih memilih gadis yang seumuran dengannya. Gadis dewasa yang bisa menyeimbanginya. Bukan cewek kekanak-kanakan sepertiku. Mungkin selama ini Soo Jin Oppa hanya menganggapku sebagai adik, atau bahkan hanya sebagai siswanya. Dan aku sudah sangat bodoh mengartikan lebih. Yang akhirnya membuat aku merasa sakit sendiri.


***

(Lee Soo Jin)

            Aku menatap kosong secangkir kopi didepanku. Pikiranku tak tentu arah. Belum pernah aku merasa sekacau ini. Ada apa sebenarnya denganku? Tidak mungkin aku cemburu

            “Oppa, Gwaenchanha?10” ujar Yun Ha menyadarkan aku dari lamunan “Kopinya sudah dingin. Ayo diminum” lanjutnya membuatku berusaha tersenyum kecil padanya.

            Pantas saja Hee Rae bolos kursus sore ini. Ternyata dia lagi pacaran disini. Dan untuk apa aku mencemaskannya selama jam kursus tadi. Untuk apa aku merasa kehilangan, kalau sebenarnya dia sedang bersama seseorang disini. Aku salah jika menganggap dia istimewa. Anak remaja sepertinya, tidak akan mungkin jatuh cinta pada cowok dewasa sepertiku. Usia kita bahkan terpaut enam tahun. Sementara cowok yang bersamanya tadi terlihat seumuran dengannya. Hee Rae pasti lebih nyaman bersama cowok itu dibanding aku

Oppa, museun ilisseo?11 Dari tadi kamu melamun terus” lagi-lagi aku tersadar dari lamunanku

            “Tidak apa-apa, Hee Rae” ujarku tanpa sadar, seketika membuat Yun Ha menatapku tajam. Dan aku seperti menyesali apa yang baru saja kukatakan

            “Kamu mikirin Hee Rae? Siswa kursusmu tadi?” Yun Ha masih menatapku dan aku sengaja mengalihkan pandanganku ketempat lain

            “Oppa, sebenarnya ada apa?” aku tak tau harus menjawab apa. Aku sendiri bingung dengan apa yang terjadi “Kamu baik-baik saja kan?” tanyanya lagi

            “Iya, aku baik-baik aja” jawabku akhirnya “Mianhae12” ujarku merasa bersalah

            “Arasseo13. Mungkin kamu lagi tidak konsentrasi. Sepertinya kamu perlu istirahat” ujar Yun Ha berusaha mengerti keadaanku “Pulang yuk” lanjutnya. Dan seperti tak punya kekuatan untuk menolak, aku pun menuruti Yun Ha untuk segera pulang. Mungkin benar kalau aku butuh istirahat. Atau sebaliknya, mungkin aku cemburu.


***

 (Kim Hee Rae)

Aku berlari menuju kamarku, lalu menumpahkan tangisku disana. Mungkin selama ini aku terlalu mengingkari. Aku hanya tidak ingin mencari tau sesuatu yang bisa membuatku tersakiti. Tetapi ketika benar-benar tau dan melihat semuanya dengan mata kepala sendiri, ternyata rasanya lebih sakit lagi. Aku yakin kalau sekarang aku sedang patah hati. Ternyata benar kalau Soo Jin Oppa sudah memiliki pacar. Dan gadis yang bersamanya tadi sangat dewasa dan cantik. Dia juga pasti sudah bekerja, terlihat dari penampilannya yang menggunakan setelan jas. Sementara aku, hanya seorang anak sekolahan yang jatuh cinta pada Guru Lesnya.

Aku rasa sudah saatnya aku menjauh dari Soo Jin Oppa. Lagi pula jadwal kursusku juga sebentar lagi akan selesai. Dan tinggal menghitung hari aku akan pindah ke Indonesia. Jika perasaan cinta bisa tumbuh karena terlalu sering bersama, maka mungkin saja perasaan cinta itu bisa hilang karena ketidakbersamaan yang terlalu lama. Dengan tidak bertemu Soo Jin Oppa dalam waktu yang lama, mungkin akan membuat aku melupakannya dengan mudah. Menjauh dari sekarang tidak akan terlalu sakit, dibanding terus berharap dari sesuatu yang tidak pasti. Kalau pun nanti aku dan Soo Jin Oppa memang ditakdirkan bersama, kita berdua pasti akan bertemu lagi di Indonesia. Bukankah sesuatu yang sudah ditakdirkan bersama, maka apapun yang mencegahnya, dia pasti akan menemukan jalan untuk menyatu.

Oppa, maaf kalau aku harus menjauhimu mulai saat ini. Sebenarnya aku tidak yakin dengan apa yang akan kulakukan. Orang selalu bilang kalau cinta itu tak pernah salah. Tapi kenapa kali ini aku dibiarkan jatuh cinta pada dirimu yang tidak sendiri lagi. Apakah aku salah dengan perasaan cinta ini. Oppa, ottoke14?? Jika kamu punya jawabnya, tolong beritahu aku. ***

 1.      Apa                         

2.      Tidak                      

3.      Ayah

4.      Ibu

5.      Panggilan akrab kakak laki-laki

6.     Siapa?

7.    Ayo kita pergi

8.    Iya

9.    Pacar

10.  Oppa, baik-baik saja?

11.  Ada masalah apa?

12.   Maaf

13.  Aku mengerti

14.  Harus bagaimana?